1. Penentuan Golongan Darah

    Sebelum melakukan transpusi,perlu melakukan penentuan golongan darah resipien dan golongan darah donor sehingga dapat tepat sesuai ini disebut penggolongan darah dan dilakukan dengan cara berikut :

    Mula-mula sel darah merah diencerkan dengan saline,kemudian satu bagian dicampur dengan agglutinin anti-A,sedangkan bagian yang lain dicampur dengan Aglutinin Anti-B setelah beberapa menit diperiksa di bawah mikroskop.

    Bila sel darah menggumpal artinya “teraglutinasi”kita tahu bahwa telah terjadi reaksi anti bodi antigen.

    PENGGOLONGAN DARAH DENGAN MEMPERLIHATKAN AGLUTINASI SEL DARI BERBAGAI GOLONGAN DARAH DENGAN AGLUTININ ANTI-A DAN ANTI-B.

Golongan Sel Darah Merah

Serum

Anti-A

Anti-B

O

A

+

B

+

AB

+

+

Tabel di atas mencantumkan terjadi (+) atau tidak terjadinya (-) aglutinasi pada masing-masing dari keempat golongan darah,sel darah merah golongan O tidak mempunyai Aglutinogen dan oleh karena itu tidak bereaksi dengan serum Anti-A atau Anti-B.Golongan darah A mempunyai Aglutinogen A dan karena itu beraglutinasi dengan Aglutinin Anti-A.

Golongan darah B mempunyai Aglutinogen B dan beraglutinasi dengan serum anti-B ,golongan darah AB mempunyai Aglutinogen A dan B serta Beraglutinasi dengan kedua jenis tersebut.

(Philipina W.B Saunders Co,1994).

  1. Dr.Landsteiner dan Donath menemukan antigen (aglutinogen) di dalam sel darah merah dan juga menemukan antibody (agglutinin) yang terdapat didalam plasma darah.

    Berdasarkan macam antigen yang ditemukan tersebut,beliau membagi golongan darah menjadi menjadi 4 golongan,yaitu seperti pada table 5.1 berikut :

     Tabel 5.1 Golongan darah berdasar macam antigen


 

Golongan darah

Aglutinogen

Agglutinin

1

A

A

α

2

B

B

Β

3

AB

A dan B

Tidak ada

4

O

Tidak ada

α dan β

 

Prinsip :


Karena akan menyebabkan penggumpalan Dalam transfuse darah,perlu diperhatikan jenis aglutinogen dari darah donor dalam eritrositnya,sedangkan pada resipien perlu diperhatikan macam agglutinin dalam di dalam plasma darahnya. Hukum Landsteiner menyatakan bahwa bila aglutinogen bertemu dengan zat antinya(aglutinin),maka akan terjadi aglutinasi atau penggumpalan darah.

(Sugiyarto,1997 : 100-101).

Perhatikan kemungkinan terjadinya transfuse darah masing-masing golongan darah dan berbagai macam golongan darah.

Keterangan :

  1. Golongan darah A hanya bias mendonorkan darah kepada golongan darah A dan AB dan menerima darah dari golongan darah A dan O.
  2. Golongan darah B hanya bisa mendonorkan darah kepada golongan darah B dan AB dan menerima darah dari golongan darah B dan O.
  3. Golongan darah AB hanya bisa mendonorkan darah kepada golongan darah AB saja dan menerima darah dari semua golongan darah (A,B,AB dan O) maka dari itu golongan darah AB disebut sebagai resipien universal.
  4. Golongan darah O bisa mendonorkan darah kepada semua golongan darah (A,B,AB,dan O) dan menerima darah dari golongan darah O saja,maka dari itu golongan darah O disebut sebagai donor universal.

 

Dalam darah terdapatantigen dan antibodi. Antigen yang terdapatdidalam sel darah yaitu aglutinogen, sedangkan antibodinya terdapat didalam plasma darah dan dinamakan agluseltinin. Aglutinogen mengakibatkan sel-sel darah peka aglutinasi (penggumpalan). Adanya aglutinogen dan agglutinin di dalam darah ini pertama kali ditemukan oleh Karl Landsteiner dan Donath.

Didalam darah terdapat dua jenis aglutinogen, yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B. Berdasarkan ada tidaknya aglutinogen dalam darah, Landsteiner membagi empat macam golongan darah,yaitu darah golongan A, B, AB, dan O. Sistem penggolongan darah itu dinamakan system ABO.

  1. Darah

    Darah merupakan suatu suspense berwarna merah yang terdapat di dalam pembuluh darah.Warna merah ini dapat berubah-ubah tergantung kadar oksigen dan kadar karbondioksida yang terkandung didalamnya.    

    Volume darah dalam tubuh laki-laki dewasa antara 5 sampai 6 liter,sedangkan pada wanita dewasa antara 4 sampai 5 liter    I atau lebih kurang sepertiga belas berat tubuh.

    Darah manusia terdiri atas 2 komponen utama,yaitu sel-sel darah dan plasma darah.Sel-sel darah ada 3 macam,yaitu eritrosit (sel darah merah),leukosit (sel darah putih),dan trombosit (sel pembeku darah atau keeping-keping darah).Sel-sel darah dan keeping-keping darah terbentuk dari stem cell (sel asal) yang sama.

a. Eritrosit (Set Darah Merah)

Sel darah merah berbentuk bikonkaf, seperti cakram dengan sitoplasma berada di dalam membrane sel yang elastis. Pada laki-laki dewasa dalam 1 mm3 darah terdapat lebih kurang 5 jutsa sel darah merah, sedangkan pada perempuan hanya 4 juta sel. Eritrosit dibentuk di dalam sumsum tulang. Ketika masih muda memiliki inti sel, tetapi setelah dewasa dan beredar dalam peredaran darah, intinya hilang. Warna eritrosit kekuning-kuningan dan di dalam sitoplasma terdapat pigmen warna merah disebut hemoglobin.

Hemoglobin (Hb) adalah protein yang mengandung senyawa besi hemin yang sangat peka terhadap oksigen. Di paru-paru hemoglobin dan oksigen membentuk aksihemoglobin (Hb02) yang diangkut ke seluruh tubuh. Di sel-sel jaringan, OZ dilepaskan kembali dan digunakan untuk respirasi sel. Hb ke^nudian mengikat C02 (hasil respirasi) menjadi HbC02 dan diangkut ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh.

Sel darah merah dibentuk di dalam sumsum merah tulang, misalnya tulang dada; tulang seiangka, dan di dalam ruas-ruas tulang belakang. Pembentukannya selama tujuh hari. Pada awalnya sel dara:h merah mempunyai inti. kemudian inti lenyap dan hemoglobin terbentuk. Setelah terbentuk, sel darah merah dilepaskan dari tempat pembuatannya dan masuk ke dalam sistem sirkulasi darah.

Masa hidup eritrosit hanya kira-kira 120 hari atau 4 bulan, kemudian dirombak di daiam hati dan limpa. Sebagian hemoglobin diubah menjadi bilirubin dan biliverdin, yaitu pigmen hijau yang memben warna empedu. Zat besi hasil penguraian hemoglobin dikirim ke hati dan limpa, selanjutnya digunakan untuk membentuk eritrosit yang baru. Kira-kira 200.000 sel darah merah yang dibentuk dan dirombak ` (dirusak) setiap hari. Jumlah itu kurang lebih 1% dari jumlah keseluruhan.

Pada tempat yang tinggi, misalnya di pegunungan, kadar oksigen di udara berkurang sehingga oksigen yang masuk ke dalam paru-paru berkurang. Untuk menjaga keseimbangan, sumsum merah memproduksi “sel darah merah lebih banyak.

Untuk mengetahui apakah terjadi pembentukan sel darah merah yang baru di dalam sumsum tulang dan proses terjadinya, dapat dilakukan “Sternal Puncture Test’ atau uji tusuk tulang dada. “Sternal Puncture Test’ atau uji tusuk tulang dada dilakukan dengan cara menusukkan jarum besar ke dalam tulang dada sampai pada bagian tulang spongia (rongga-rongga tulang), kemudian dengan alat isap atau alat sedot, disedot sedikit cairan yang ada di dalamnya. Setelah itu, diperiksa di bawah mikroskop bagaimana pertumbuhan sel darah merahnya. Dengan cara ini dapat pula ditentukan penyakit-penyakit darah.

Anemia adalah penyakit kurang darah, yaitu kekurangan sel-sel darah merah sehingga hemoglobinnya pun berkurang. Hal itu di,sebabkan kekurangan zat besi dalam makanan atau kegagalan sumsum merah membentuk sel darah merah. Penderita anemia biasanya merasa lemah, sukarbernapas. dan cepat merasa ielah. Kekurangan zat besi dalam tubuh dapat diatasi dengan makan banyak daging dan hati atau minum tablet yang mengandung zat besi.

Sel darah merah dalam tubuh dapat berkurang karena luka yang besar hingga mengeluarkan darah yang banyak atau karena kuman-kuman penyakit, misalnya malaria dan cacing tambang yang membinasakan sel darah merah. Jika sumsum merah kurang memproduksi sel darah merah, dapat diatasi dengan memberi makanan berupa hati atau ekstrak hati. Vitamin B” dapat merangsang pembentukan sel darah merah.

b. Trombosit (Keping-Keping Darah)    .

Keping-keping darah disebut juga trombosit. Bentuknya oval, sangat kecil, dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Diproduksi dengan cara bertunas di dalam sumsum tulang. Dalam 1 mm3 darah terdapat 150.000 sampai dengan 350.000 sel trombosit. Trombosit tidak mempunyai inti, dapat melekat pada daerah yang luka pada dinding pembuluh darah. Ukurannya 3-4 mikron, berumur lebih kurang 10 hari. Trombosit mudah sekali pecah dan kalau pecah mengeluarkan enzim trombokinase atau tromboplastin. Enzim ini berperan dalam proses pembekuan darah.

Proses pembekuan darah sebagai berikut. Jika terjadi luka, darah keluar sehingga berhubungan dengan udara. Trombosit yang keluar bersama darah akan pecah karena bergesekan dengan luka dan mengeluarkan trombokinase atau tromboplastin. Dengan bantuan ion-ion Ca”, tromboplastin mengubah protrombin dalam darah menjadi trombin.

Protrombin adalah senyawa globulin yang larut dalam plasma dan dibuat di hati dengan bantuan vitamin K. Kalau kekurangan vitamin K, pembentukan protrombin terganggu. Dengan demikian, proses pembekuan darah juga terganggu. Darah sukar membeku disebut penyakit hemofiha.

Untuk menghindari pembekuan saat pengambilan darah, dapat dicegah dengan cara memberikan larutan garam natrium atau natrium oksalat untuk mengikat Ca” sehingga tidak terbentuk trombin; memberikan zat antikoagulasi (misalnya heparin), mencegah persentuhan dengan bidang yang kasar, misalnya menggunakan jarum yang tajam, permukaan alat yang licin dan halus, serta menyimpan darah di tempat yang dingin

  1. Plasma Darah

    Plasma darah merupakan bagian cair dari darah atau cairan darah, kira-kira 55% dari bagian darah.Sebagian besar plasma (90% – 93%) terdiri atas air dan sisanya macam-macam zat yang terlarut di dalamnya Zat-zat terlarut di dalam plasma darah dapat dikelompokkan sebagai berikut.

    a. Protein darah, tersusun oleh beberapa asam amino. Protein darah tersebut sebagai berikut.    °

    1) Albumin, berguna untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik darah.

    2) Globulin, berperan dalam pembentukan gamaglobulin, yaitu komponen zat antibodi yang penting.

    3) Fibrinogen, berperan penting dalam pembekuan darah.

    b. Zat makanan dan mineral, seperti glukosa, asam lemak, kolesterol, asam amino, clan garam-garamineral yang berbentuk ion, misalnya sodium, potasium, kalsium, klorida, fosfat, dan hidrogen karbc^~: sodium hidrogen karbonat, dan bikarbonat (NaHC03)’

    c. Zat-zat yang diproduksi oleh sel, seperti enzim, hormon, clan antibodi.

    d. Zat-zat sisa metabolisme, seperti asam urat clan urea.

    e. Gas-gas pernapasan yang terdapat dalam plasma, seperti 02 dan C02.

    Serum adalah plasma darah yang dikeluarkan atau dipisahkan fibrinogennya dengan cara memu:= darah di dalam sentrifuge. Serum sangat jernih dan dapat mengandung zat antibodi.

    Apabila protein asing masuk ke dalam tubuh, tubuh berusaha untuk membinasakannya. Protein as,yang masuk ke dalam tubuh disebut antigen clan zat yang menolak antigen disebut antibodi atau zat anti.

    Berdasarkan cara kerjanya, antibodi dapat dibedakan sebagai berikut.

    a. Aglutinin : menggumpalkan antigen racun.

    b. Presipitin : mengendapkan antigen

    c. Antitoksin : menetralkan

    d. Lisin: menguraikan antigen.

5. Golongan Darah dan Transfusi

Dalam darah terdapat antigen dan antibodi. Antigen yang terdapat di dalam sel darah yaitu aglutinogen, sedangkan antibodinya terdapat di dalam plasma darah clan dinamakan aglutinin. Aglutinogen mengakibatkan sel-Sel darah peka terhadap aglutinasi (penggumpalan). Adanya aglutinogen clan aglutinin di dalam darah ini    i pertama kali ditemukan oleh Karl Landsteiner (1868-1943) dan Donath.

Selain golongan sistem ABO, ada lagi golongan Rhesus faktor (Rh) yang ditemukan oleh Landsteiner dan Wiener pada tahun 1940. Jika darah diberi serum anti Rh dan ternyata terjadi penggumpalan, dikatakan orang tersebutt bergolongan Rhesus positif (Rh”) dan jika tidak terjadi penggumpalan, bergolongan Rhesus negatif (Rh -).

Ketidakcocokan golongan Rh antara suami dan istri dapat mengakibatkan kematian pada bayi yang dikandungnya. Jika suami bergolongan darah Rh- dan istri Rh-, anak yang dikandung bergolongan darah Rh+ dan terbentuk antigen Rh dalam darah bayi yang mengakibatkan penggumpalan. Kelahiran bayi pertama selamafi, tetapi bayi selanjutnya akan menderita sakit kuning atau disebut eritroblastosis fefialis.

Menurut Philip Levine, ahli serologi AS, kejadian tersebut dapat ditolong dengan “mengganti” darah :,ay, se?uruhnya. Darri hasil penyelidikan, ternyata manusia lebih banyak bergolongan Rh* daripacia Rh-.

Pada tahun 1927, Landsteiner dan Levine menemukan antigen daiam darah manus,a, vaing diberi nama antigen Ivl dan ;iN sehingga dapat ditentukan seseorang bergolongan M, N, dan MN.